Selasa, 15 Juni 2010

Askep ISK

ASUHAN KEPERAWATAN PADA SISTEM PERKEMIHAN
INFEKSI SALURAN KEMIH ( ISK )
Dosen Pengampu : Rachmat Susanto, S.Kep.,Ns.







Disusun Oleh : Kelompok II

Ketua : Satiningsih
Wakil : Aan Novitasari
Anggota :
1. Endra Yulianto
2. Hana Mulyana
3. Nina Sutiani
4. Priyo Dwi Prasetyo
5. Sutri Lestari

AKADEMI PERAWATAN SERULINGMAS
MAOS – CILACAP
2010
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah Kehadirat Allah SWT, atas segala petunjuk dan pertolongan-Nya, solawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada sanjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Selanjutnya berkat taufik dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA SISTEM PERKEMIHAN INFEKSI SALURAN KEMIH ( ISK )" guna memenuhi tugas Keperawatan Medikal Bedah III dari dosen.
Materi yang terkandung di dalam makalah ini untuk memberikan sedikit gambaran dan sebagai bahan pembelajaran tentang Asuhan Keperawatan Pada Sistem Perkemihan Infeksi Saluran Kemih.
Tak lupa kami penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Yang terhormat Bapak Rachmat Susanto, S.Kep.,Ns., selaku dosen mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah III.
2. Semua pihak yang telah membantu kepada penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, walaupun telah penulis usahakan dengan semaksimal mungkin. Maka dari itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang kontruktif demi sempurnanya makalah ini. Akhirnya, semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca umumnya.

Cilacap, 5 April 2010
Penyusun,


Mahasiswa Akper Serulingmas
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL …………............................................................................ i
KATA PENGANTAR ………………………………………………………...... ii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………… iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah …………………………………….. 1
B. Rumusan Masalah …………………………………………… 1
C. Tujuan Penyusunan ………………………………………….. 1
D. Manfaat Penyusunan ………………………………………… 1

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian…………………………………………………….
B. Etiologi………………………………………………………..
C. Manifestasi Klinis…………………………………………….
D. Pathofisiologi………………………………………………....
E. Pathway……………………………………………………….
F. Pemeriksaan Diagnostik………………………………………
G. Potensial Komplikasi…………………………………………
H. Penatalaaksanaan……………………………………………..
I. Pengkajian…………………………………………………….
J. Diagnosa dan Intervensi………………………………………

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ...………………………………………...............
B. Saran………………………………………………………….

DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Infeksi saluran kencing atau ISK merupakan masalah kesehatan yang cukup serius di bagi jutaan orang tiap tahun. ISK merupakan penyakit infeksi nomor 2 yang paling banyak menyerang manusia di muka bumi. Umumnya penyakit ini menyerang kaum wanita tapi sering juga ditemukan laki laki yang menderita ISK.
Sistem saluran kencing atau sistem urin terdiri dari ginjal, ureter, kandung kencing dan urethra. Diantara keempat organ tersebut, ginjalah yang paling memegang peranan. Ginjal berfungsi menyaring sampah dari saluran darah, mengatur keseimbangan cairan, dan memproduksi beberapa hormon. Ureter berfungsi mengalirkan cairan hasil penyaringan ginjal ke kandung kemih untuk disimpan sementara dan bila kandung kemih sudah penuh maka akan dikeluarkan ke dunia luar melalui saluran urethra.
B. Rumusan Masalah
1. Pengertian
2. Etiologi
3. Manifestasi Klinis
4. Pathofisiolgi
5. Pathway
6. Pemeriksaan Diagnosti
7. Potensial Komplikasi
8. Penatalaksanaan
9. Pengkajian
10. Diagnosa keperawatan dan Intervensi

C. Tujuan Penyusunan
1. Untuk memenuhi tugas Keperawatan Medikal Bedah III
2. Untuk mengetahui lebih jauh tentang Asuhan Keperawatan Pada Sistem Perkemihan.

D. Manfaat Penyusunan
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis diharapkan makalah ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan bagi pembaca khususnya seorang perawat.
2. Manfaat Terapan
Hasil makalah ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dan masukan mengenai Asuhan Keperawatan Pada Sistem Perkemihan Infeksi Saluran Kemih.








BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Infeksi saluran kemih ( ISK ) adalah istilah umum yang ditujukan pada infeksi bakteri pada saluran kemih ( Engram, 1998 ).
Infeksi saluran kemih adalah infeksi yang terjadi disepanjang saluran kemih, termasuk ginjal itu sendiri, akibat proliferasi suatu mikroorganisme ( Corwin, 2000 ).
Infeksi saluran kemih ( ISK ) adalah ditemukanya bakteri pada urin di kandung kemih, yang umumnya steril, Istilah ini dipakai secara bergantian dengan istilah infeksi urin. Termasuk pula berbagai infeksi saluran kemih yang tidak hanya mengenai kandung kemih , ( Mansjoer 1999 ).
Infeksi saluran kemih adalah infeksi pada bagian tertentu dari saluran perkemihan yang disebabkan oleh bakteri terutama Eschericia Coli, risiko dan beratnya meningkat dengan kondisi seperti refluks vesikouretral, obstruksi saluran perkemihan, statis perkemihan, pemakaian instrument uretral baru, septicemia. ( Tucker, 1998 ).
Jadi infeksi saluran kemih ( ISK ) adalah istilah umum yang dipakai untuk menyatakan adanya invasi mikroorganisme disepanjang saluran kemih, baik di uretra ( uretritis );vesikoureter ( sistitis ); ureter ( ureteritis ) maupun di ginjal itu sendiri ( pielonefritis ).
Ada tiga sumber utama untuk masuknya bakteri yang dapat menyebabkan infeksi saluran kemih. Sumber infeksi yang paling banyak adalah meatus, mengakibatkan infeksi asenden. Infeksi desenden berasal dari darah atau limfe dan sering mengakibatkan pielonefritis ( infeksi pada ginjal ). Hal ini menjadi ISK yang serius karena sering menyebabkan terjadinya gagal ginjal. ISK lebih sering terjadi pada wanita dewasa dan meningkat insidennya sesuai pertambahan usia dan aktivitas seksual. Meskipun alas an ini tidak dimengerti dengan jelas, diperkirakan wanita lebih mudah mendapat infeksi dari pada pria disebabkan karena uretra wanita lebih pendek dan tidak mempunyai substansi seperti ditemukan pada cairan seminal.
B. Etiologi
Bermacam-macam mikroorganisme dapat menyebabkan ISK. Penyebab terbanyak adaalh gram-negatif termasuk bakteri yang biasanya menghuni usus yang kemudian naik ke sistem saluran kemih. Biasanya bakteri enteric, terutama Eschericia Coli pada wanita. Jenis kokus gram positif lebih jaarang sebagai penyebab ISK sedangkan enterokokusdan Staphylococus aureus sering ditemukan pada pasien dengan batu saluran kemih. Lelaki usia lanjut dengan hipertrofi prostat atau pada pasien yang menggunakan kateter. Bila ditemukan S. aureus dalam urin harus dicurigai adanya infeksi hematogen melalui ginjal. Demikian juga dengan Pseudomonas aeroginosa dapat menginfeksi saluran kemih melalui jalur hematogen dan pada kira-kira 25 % pasien demam tifoid dapat diisolasi Salmonella pada urin. Bakteri lain yang dapat menyebabkan ISK melalui jalaan hematogen ialah brusella, nokardia, aktinomises dan Mycobacterium tuberculosae.
Virus sering juga ditemukan pada urin tanpa gejala ISK akut. Kanddida merupakan jamur yang paling sering menyebabkan ISK terutama pada pasien dengan kateter, pasien DM atau yang mendapat pengobatan ddenagn antibiotic spectrum luas. Kandida yang paling sering ialah Candida albicans dan Candida Tropicalis. Semua jamur sistemik dapat menulari saluran kemih secara hematogen. Beberapa faktor predisposisi yang mempermudah terjadinya ISK antara lain :
1. Bendungan aliran urin
• Anomali congenital
• Batu saluran kemih
• Oklusi ureter ( sebagian atau total )
2. Refluks vesikoureter
3. Urin sisa pada buli-buli karena :
• Neurogenic bladder
• Striktur uretra
• Hipertrofi prostat
4. Gangguan metabolic :
• Hiperkalsemia
• Hipokalemia
• Agamaglobuinemia
5. Intrumentasi
• Kateter
• Dilatasi ureter
• Sistoskopi
6. Kehamilan
• Factor stasis dan bendungan
• pH urin yang tinggi sehingga mempermudah pertumbuhan kuman.
C. Manifestasi Klinis
Manifestasi atau gejala klinis ISK tidak khas dan bahkan pada sebagian pasien tanpa gejala. Gejala yang sering ditemukan ialah disuria, frekuensi miksi yang bertambah, dan nyeri suprapubik adalah gejala iritasi kandung kemih. Beberapa pasien mengeluh bau yang tidak menyenangkan atau keruh, dan mungkin hematuria. Bila mengenai saluran kemih atas, mungkin terdapat gejala-gejala pielonefritis akut seperti akut seperti mual, demam dan nyeri pada ginjal. Namun pasien dengan infeksi ginjal, mungkin hanya menunjukan gejala saluran kemih bawah atau tidak bergejala.
Gejala lain yang menyertai ISK selain nyeri suprapubik dan daerah pelvis antara lain :
1. Polakisuria
Terjadi akibat kandung kemih tidak dapat menampung urin lebih dari 500 ml karena mukosa yang meradang sehingga sering kencing.
2. Stranguria
Yaitu kencing yang susah dan disertai kejang otot pinggang yang ssering ditemukan pada sistitis akut.
3. Tenesmus
Ialah rasa nyeri denagn keinginan mengosongkan kandung kemih meskipun telah kosong.
4. Nokturia
Ialah cenderung sering kencing pada malam hari akibat kapasitas kandung kemih menurun.
5. Enuresis Nokturnal Sekunder
Yaitu ngompol pada orang dewasa
6. Protastismus
Yaitu kesulitan memulai kencing dan kurang deras arus kencing
7. Nyeri uretra, ureter dan ginjal
Gejala klinis ISK sesuai ddengan bagian saluran kemih yang terinfeksi yaitu :
1. Pada ISK bagian bawah
Keluhan pasien biasanya berupa rasa sakit atau rasa panas di uretra sewaktu kencing dengan air kemih sedikit-sedikit serta rasa tidak enak di daerah suprapubik.
2. Pada ISK bagian atas
Dapat ditemukan gejala sakit kepala , malaise, mual, muntah, demam, menggigil, rasa tidak enak atau nyeri dipinggang.
( Tjokronegoro , 2001)

D. Patofisiologi
Sebagian infeksisaluran kemih disebabkan oleh bakteri, tetapi jamur dan virus juga dapat menjadi penyebabnya. Infeksi bakteri tersering adalah yang disebabkan oleh Escheria Coli, suatu organisme yang ditemukan di daerah anus. Organisme-organisme lain yang juga menyebabkan infeksi saluran kemih adaalah golongan Proteus, Klebsiella, Pseudomonas enterokok dan Staphylococus. Pada kebanyakan kasus, organisme tersebut dapat mencapaai kandung kemih saja atau dapat pula merambat keatas melalui ureter sampai ke ginjal. Organisme juga dapat sampai di ginjal melalui aliran darah atau aliran getah bening, tetapi cara ini di anggap jarang terjadi. Tekanan dari aliran kemih menyebabkan saluran kemih normal dapat mengeluarakn bakteri yang ada sebelum bakteri tersebut sempat menyerang mukosa. Mekanisme pertahanan lainnya adalah kerja antibakteri yang dimiliki oleh selaput lender uretra, sifat bakterisidal dari cairan prostat pada pria, dan sifat fagositik epitel kandung kemih. Meskipun ada mekanisme pertahanan seperti ini, infeksi tetaap mungkin terjadi dan kemungkinan ini berkaitan dengan faktor predisposisi.
Obstruksi aliran kemih proksimal terhadap kandung kemih dapat mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter. Hal ini mengakibatkan atrofi hebat pada parenkim ginjal. Keadaan ini disebut hidronefrosis. Disamping itu, obstruksi yang terjadi di bawah kandung kemih sering disertai refluks vesikoureter dan infeksi pada ginjal. Penyebab umum obstruksi adalah jaringan parut ginjal atau uretra, batu, neoplasma, hipertrofi prostat, kalainan congenital pada leher kandung kemih dan uretra, dan penyempitan uretra.
ISK sering terjadi pada wanita, salah satu penyebabnya adalah uretra wanita yang lebih pendek sehingga bakteri kontaminan lebih mudah memperoleh akses ke kandung kemih. Faktor lain yang berperan meningkatkan infeksi saluran kemih pada wanita adalah kecenderungan menahan urin, perubaahaan pH dan flora vulva dalam siklus menstruasi serta iritasi kulit lubang uretra pada wanita sewaktu berhubungan kelamin. Uretra yang pendek meningkatkan kemungkinan mikroorganisme yang menempel sewaktu berhubungan kelamin memiliki akses ke kandung kemih. Wanita hamil mengalami relaksasi semua otot polos yang dipengaruhi oleh progesterone, termasuk kandung kemih dam ureter, sehingga mereka cenderung menahan urin di bagian-bagian tersebut. Uterus padaa kehamilan juga daapaat menghambat aliran urin pada keadaan-keadaan tertentu.
Faktor protektif yang melawan infeksi saluran kemih pada wanita adalah pembentukan selaput mucus yang dependen estrogen di kandung kemih. Mucus ini memiliki fungsi sebagai antimikroba. Pada keduaa jenis kelamin, proteksi terhadap ISK terbentuk oleh sifat alami urin yang asam dan berfungssi sebagai bahan antibakteri.
Pengidap diabetes juga berisiko mengalami ISK berulang karena tingginya kadar glukosa dalam urin, fungsi imun menurun, dan peningkataan frekuensi kandung kemih neurogenik. Individu yang mengalami cedera korda spinalis atau menggunakan kateter urin untuk berkemih juga mengalami peningkatan risiko infeksi.
( Corwin, 2000 : Price, 1995 )














F. Pemeriksaan Diagnostik
- Urinalisa
1. Keruh
2. Bakteri
3. Piuria
4. Sel darah putih
5. Sel darah merah mungkin ada
- Kultur urin dan sensitivitas positif
- Radiografi
1. Urografi ekskretori
2. Sistoskopi
3. Sinar z ginjal, ureter dan kandung kemih ( GUK ) mengidentifikasi anomaly struktur nyata.
4. Pielografi intravena ( IVP ) mengidentifikasi perubahan atau abnormalitas struktur.
( Engram, 1998 )
G. Potensial Komplikasi
- ISK progresi kearah ginjal mengakibatkan
1. Sepsis
2. Mual, muntah, dehidrasi
3. Jaringan parut parenkim
4. Abses ginjal
5. Abses perinefrik
- Kambuh ( kemungkinan 20%-50% )
- Pembentukan batu ginjal
- Septikemia
- Kerusakan ginjal.
H. Penatalaksanaan
- Medis
1. Terapi antibiotika diberikan hasik kultur dan sensitivitas urin.
2. Pemberian cairan
3. Analgetik
4. Sistoskopi
5. Pasien dengan pielonefritis akut harus dirawat di rumah sakit dan diberikan terapi antibiotic parenteral serta pemeriksanaan lanjut. Bila gejala tidak berkurang, dilakukan USG ginjal untuk mengetahuiapakah terdapat obstruksi.
6. Intervensi pembedahan jika terjaddi obstruksi
7. Pada kasus yang sulit dapat diberikan obat profilaksis dosis rendah sebelum tidur setiap malam, misalnya nitrofurantion, trimetprim, dan sulfametoksazol, biasanya selama 3-6 bulan.
8. Pemeriksaan lebih lanjut yang dilakukan biasanyaa berupa pemeriksaan mikroskopik urin dan kultur secara berulang.

FOKUS KEPERAWATAN
I. Pengkajian
1. Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko :
a. Riwayat ISK sebelumnya
b. Obstruksi pada saluran kemih
2. Adanya faktor yang menjadi predisposisi pasien terhadap infeksi nosokomial :
a. Pemasangan kateter
b. Imobilisasi dalam waktu yang lama
c. Inkontinensia
3. Kaji manifestasi klinis dari infeksi saluran kemih
a. Dorongan
b. Frekuensi
c. Disuria
d. Bau urin yang menyengat
e. Nyeri biasanya pada suprapubik, pada ISK bawah dan sakit pada panggul, pada ISK atas ( perkusi daerah kostovertebra untuk mengkaji nyeri tekan panggul )
f. Demam, khususnya pada ISK atas
4. Kaji perasaan-perasaan pasien terhadap hasil tindakan dan pengobatan. Terutama pada wanita sering berfokus pada rasa takut akan kekambuhan, dimana menyebabkan penolakan terhadap aktivitas seksual. Nyeri dan kelelahan yang berkenaan dengan infeksi dapat berpengaruh pada penampilan keerja dan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS ).
5. Pasien dianjurkan untuk banyak minum agar dieresis meningkat.
6. Tirah baring dengan aktivitas kembali toleransi.
7. Wanita dan gadis diaanjurkan untuk sering minum dan BAK sesuai kebutuhan untuk membilas mikroorganisme yang mungkin merayap naik ke uretra. Wanita dan gadis harus diberitahu untuk membilas dari depan ke belakang untuk menghindari kontaminasi lubang uretra oleh bakteri feses. Demikian juga, wanita dianjurkan untuk berkemih sehabis berhubungan kelamin untuk membilas mikroorganisme yang masuk.
J. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan gaangguan sistem perkemihan ( ISK ) sesuai dengan pathway keperawatan yaitu :
1. Nyeri berhubungan dengan infeksi saluran perkemihan ( Carpenito, 2000 )
Tujuan : Nyeri dapat teratasi
Kriteria hasil :
a. Mengungkapkan bahwa nyeri berkurang
b. Memperlihatkan ekspresi wajah serta tubuh rileks
c. Mengungkapkan adanya kemajuan aktivitas sehari-hari
Fokus Intervensi :
a. Mandiri :
- Pantau haluaran urin terhadap perubahan warna, baud an pola berkemih.
- Pantau masukan dan haluaran urin setiap 8 jam
- Pantau hasil urinalisis ulang.
- Jika frekuensi menjadi masalah, janin akses ke kamar mandi, pispot tempat tidur atau bed pain.
- Anjurkan pasien untukberkemih kapan saja ada keinginan
b. Kolaboratif :
- Konsul dokter bila; sebelumnya kuning gading , urin kuning, jingga gelap, berkabut atau keruh, pola berkemih berubah, sebagai contoh sering berkemih dengan jumlah sedikit, perasaan ingin kencing, menetes setelah berkemih, nyeri menetap atau beertambah sakit.
- Berikan analgetik sesuai kebutuhan dan evaluasi keberhasilannya
- Berikan antibiotic, buat berbagaai variasi sediaan minum termasuk air segar disamping tempat tidur. Pemberian air sampai 2400 ml/hari.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuhberhubungan dengan anorekssia, mual / muntah
Tujuan : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat teratasi
Kriteria hasil :Berat badan meningkat, nafsu makan meningkat, tidak mual/muntah
Fokus intervensi :
a. Mandiri :
- Kaji / catat pemasukan diet
- Berikan makanan sedikit dan sering
- Berikan pasien / orang terdekat daftar makanan / cairan yang diizinkan dan dorong terlibat pada pilihan menu
- Timbang berat badan setiap hari
b. Kolaboratif
- Awasi pemeriksaan laboratorium , contoh BUN, albumin serum, ransferin, natrium dan kalium.
- Konsul dengan ahli gizi / ilmu pendukung nutrisi
- Batasi kalium, natriumdan pemasukan fosfat sesuai indikasi.
- Berikan obat sesuai indikasi : sediaan besi,kalsium, vitamin D, vitamin Bkompleks, antiemetic contoh proklorperazin ( compazin ), trimetobenzamid ( tigan ).
3. Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan penurunan kapasitas kandung kemih / iritasi kandung kemih sekunder akibat infeksi, glikosuria atau uretritis. ( Carpenito,2000 )
Tujuan : Perubahan pola eliminasi urin dapat teratasi
Kriteria hasil :
a. Individu akan menjadi kontinen (terutama selama siang hari, malam, 24 jam ).
b. Individu akan mengetahui cairan yang masuk dan keluar seimbang.
c. Pola eliminasi dalam batas normal dan dapat terkontrol
Fokus intervensi :
a. Mandiri
- Kaji adanya kateter uretral dan observasi aliran urin
- Catat keluaran urin, selidiki penurunan / penghentian aliran urin tiba-tiba.
- Observasi dan catat warna urin, perhatikan hematuria
- Dorong peningkatan cairan dan pertahankan pemasukan akurat.
- Awasi tanda vital, kaji nada perifer, turgor kulit, pengisian kapiler, dan mukosa mulut.
- Hindari minum teh, kopi dan alcohol
b. Kolaboratif
- Berikan cairan IV sesuai indikasi
- Awasi elektrolit, GDA, kalsium
- Siapkan untuk tes diagnostic, prosedur sesuai indikasi
4. Resiko infeksi berhubungan dengan retensi urin atau pemasangan kateter urin dan invasi mikroorganisme .
Tujuan : Risiko infeksi dapat teratasi / tidak terjaddi
Kriteria hasil :
- Tidak mengalami tanda tanda infeksi
- Pasien akan mencapaai waktu penyembuhan
Fokus intervensi:
a. Mandiri :
- Kaji suhu tubuh setiap 4 jam dan laporkaan jika kenaikan suhu lebih tinggi dari 38,50 C
- Untuk meningkatkan masukan cairan lebih dari 2500 ml/hari agar mendorong bakteri keluar, kecuali ada kontraindikasi
- Pantau contoh urin ulang untuk kultur dan sensitivitas untuk penentuan respon terhadap terapi.
- Intruksikan pasien untuk berkemih jika ada dorongan untuk berkemih sebelum dan setelah koitus, dan tiap 3-4 jam, kecuali selama waktu tidur.
- Ajarkan pasien untuk mandi dengan sabun antibakteri.
- Ajarkan pasien wanita untuk menghindari mandi rendam.
- Berikan hygiene perineal yang baik, jaga daerah perineal tetap kering dan bersih.
- Ajarkan pasien wanita untuk membersihkan atau merawat perineal setelah berkemih dengan gerakan dari depan kebelakang.
b. Kolaboratif :
- Berikan antibiotic sesuai indikasi
- Perhatikan karakteristik urin dan laporkan jika keruh dan baunya menyimpang.
- Tampung urin tengah dan atau urin yang bersih untuk periksa kultur dan sensitivitas jika urin yang keluar mencurigakan.
5. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan haluaran urin yang berlebihan.
Tujuan : Kekurangan volume cairan dapat teratasi
Kriteria hasil :
a. Meningkatkan masukan cairaan minimal 2000 ml ( kecuali bila kontraindikasi )
b. Mempertahankan berat jenis urin dalam batas normal.
c. Memperlihatkan tidak adanya tanda dan gejala dehidrasi.
Fokus intervensi :
a. Mandiri :
- Kaji minuman yang disukai / tidak disukai, berikan minuman yang disukai dalaam batasan diet.
- Masukan cairan untuk setiap pergantian ( missal, 1000 ml selama siang hari, 800 ml untuk sore hari, 300 ml pada malam hari ).
- Pantau masukan, pastikan sedikitnya 1500 ml cairan oral setiap 24 jam.
- Pantau haluaran, pastikan sedikitnya 1000-1500 ml / 24 jam. Pantau terhadap penurunan berat jenis urin.
- Pantau kadar elektrolit darah, nitrogen, urin, dan serum, osmolalitas, kreatinin, hematokrit dan hemoglobin.
- Pertimbangkan kehilangan cairan tambahan yang berhubungan dengan muntah atau demam.
- Ajarkan bahwa kopi, the, dan jus buah anggur menyebabkan dieresis dan dapat menembah kehilangan cairan.
b. Kolaboratif ;
- Awasi pemeriksaan laboratorium seperti : kadar elektrolit darah, nitrogen, urin dan serum, osmolalitas, kreatinin, hematokrit dan hemoglobin.
- Berikan obat sesuai indikasi : antiemetic, contoh proklorperazin ( compazin ).
6. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolisme dan kelelahan sekunder akibat infeksi pada saluran kemih
Tujuan : Akitifitas meningkat / kembali toleransi
Kriteria hasil :
a. Mampu mengidentifikasi faktor – faktor yang menurunkan toleransi aktivitas.
b. Klien melaporkan penurunan gejala – gejala intoleransi aktivitas.
Fokus intervensi :
a. Mandiri :
- Kaji respon individu terhadaap aktivitas; ukur nadi, tekanan darah, dan pernapasan saat istirahat.
- Tingkatkan aktivitas secara bertahap; untuk klien yang sedang atau pernah tirah baring lama, mulai lakukan rentang gerak sedikitnya 2 kali sehari.
- Sarankan pasien untuk mengurangi aktivitas.
- Berikan aktivitas pengganti yang menyenangkan dan tenang seperti membaca, mendengarkan radio dan menonton televise.
b. Kolaboratif :
- Berikan obat sesuai indikasi.
7. Gangguan pola tidur berhubungan dengan sering terbangun sekunder akibat disuria, retensi atau inkontinensia urin ( Carpenito, 2000 ).
Tujuan : Kebutuhan istirahat / tidur dapat terpenuhi
Kriteria hasil :
a. Melaporkan dapat beristirahat / tidur
b. Melaporkan pengurangan berkemih pada malam hari
Fokus intervensi :
a. Mandiri :
- Dorong klien untuk tidur siang.
- Bantu pasien untuk mendapatkan posisi yang nyaman.
- Kurangi kebisingan.
- Batasi masukan minuman yang mengandung kafein setelah sore hari.
- Jelaskan pada individu atau keluarga penyebab gangguan tidur / istirahat dan kemungkinan cara menghindarinya; hindari alcohol, pertahankan waktu tidur teratur, jangan latihan dalam 3 jam waktu tidur.
b. Kolaboratif :
- Berikan diuretik sesuai indikasi
8. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi atau tidak mengenal sumber informasi ( Carpenito, 2000 ).
Tujuan : Pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi atau tidak mengenal sumber informasi ( Carpenito, 2000 ).
Kriteria hasil :
a. Menyatakan pemahaman mengenai penyakitnya.
b. Menunjukan kebenaran konsep tentang status kesehatan.
Fokus intervensi :
a. Mandiri :
- Kaji kemampuan klien untuk belajar
- Tekankan pentingnya mempertahankan asupan nutrisi dan pemasukan cairan adekuat ( sedikitnya 2-3/ hari ).
- Identifikasi gejala yang harus dilaporkan ke perawat, contoh kencing darah ( hematuri ).
- Masukan sumber – sumber tertulis / gambar
- Diskusikan harapan masa depan.
b. Kolaboratif :
- Berikan instruksi dan informasi tertulis khusus pada pasien untuk rujukan.
- Identifikasi tanda / gejala yang memerlukan evaluasi medic, contoh perubahan karakter, jumlah dan aliran urin.











BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas kami menyimpulkan bahwa Sistem saluran kencing atau sistem urin terdiri dari ginjal, ureter, kandung kencing dan urethra. Diantara keempat organ tersebut, ginjalah yang paling memegang peranan. Ginjal berfungsi menyaring sampah dari saluran darah, mengatur keseimbangan cairan, dan memproduksi beberapa hormon. Ureter berfungsi mengalirkan cairan hasil penyaringan ginjal ke kandung kemih untuk disimpan sementara dan bila kandung kemih sudah penuh maka akan dikeluarkan ke dunia luar melalui saluran urethra.

B. Saran
Dari kesimpulan diatas kami menyarankan kepada khususnya tenaga kesehatan atau perawat untuk lebih mempelajari tentang Asuhan Keperawatan Pada Sistem Perkemihan Infeksi Saluran Kemih untuk menambah ilmu pengetahuan dan meningkatkan kesehatan.












DAFTAR PUSTAKA

Baughman C Diane, Keperawatan medical bedah, Jakrta, EGC, 2000.
Doenges E Mailyn, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Ed3. Jakarta, EGC. 1999
Hudak,Carolyn M. Keperawatan kritis : pendekatan holistic. Vol.1, Jakarta.EGC. 1997
Purnawan J. dkk, Kapita Selekta Kedokteran, Ed2. Media Aesculapius. FKUI.1982.
Price, Sylvia A, Patofisiologi : Konsep klinis proses-pross penyakit, Ed4. Jakarta. EGC. 1995.
Smeltzer c Suzanne, Buku Ajar Keperawatan medical Bedah, Brunner and Suddarth’s, Ed8. Vol.1, Jakarta, EGC, 2002.
Syamsuhidayat, Wim de Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, Jakarta, EGC, 1997.
Susan Martin Tucker, Standar perawatan Pasien: proses keperawatan, diagnosis, dan evaluasi. Ed5. Jakarta EGC. 1998.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar